Lima Penyakit Hati dalam Islam dan Cara Mengobatinya Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah

Lima Penyakit Hati dalam Islam dan Cara Mengobatinya Sesuai Al-Qur'an dan As-Sunnah
Penyakit Hati- Ketahuilah bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging yang jika ia baik,seluruh tubuh akan baik dan jika ia rusak, maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah ialah Hati. Dari penjelasn tersebut, kita mendapatkan hikmah bahwa jika ingin tubuh kita baik, maka kita harus tahu 10 penyakit hati dalam islam dan bagaimana cara mengobatinya. Maka remajaonline.com akan membahas mengenai penyakit-penyakit hati dan cara mengatasinya agar kita selamat dari tubuh yang rapuh.


Sebelum masuk ke pembasahan 10 penyakit hati, maka kita harus tahu terlebih dahulu apa itu penyakit hati. Penyakit hati adalah sifat tercela yang bisa membahayakan hati seseorang dan dapat menghapus amalan-amalan yang telah kita kumpulkan seperti api melahap kayu sampai habis.

Penyakit-penyakit hati ini diantaranya:

1. Iri atau Dengki

Lima Penyakit Hati dalam Islam dan Cara Mengobatinya Sesuai Al-Qur'an dan As-Sunnah

Iri atau dengki adalah suatu emosi dimana saat orang lain memilki kelebihan dari nikmat harta, ilmu, kedudukan, dan kekuasaan darinya dan dia ingin semuanya musnah dari orang lain, lalu ia berharap mendapatkan semua itu. Iri atau Dengki berbeda dengan ightibath yaitu berharap mendapatkan nikmat ilmu, harta, dan kesehatan badan seperti orang lain tanpa mengharapkan nikmat tersebut hilang dari pemilkinya. iri atau dengki  berasal dari syetan. Maka saat orang memilki sifat iri berarti ia sedang dikuasai oleh syetan. Rosulullah SAW bersabda ;

"Tidak boleh dengki kecuali kepada dua orang, orang yang diberi harta oleh Allah kemudian memenangkan atas kerakusannya di jalan yang benar, dan orang yang diberi hikmat oleh Allah kemudian memutuskan persoalan dengannya, dan mengajarkannya."  ( HR Bukhori )

" jauhilah dengki, karena dengki memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar, atau rumput." ( HR Abu Daud)

Dari dua hadist di atas, jelas kita tidak boleh memliki sifat iri dan dengki, kecuali kepada kedua orang yang telah disampaikan dalam hadist tersebut. Lalu bagaimana kalau seandainya dengki tumbuh dalam diri kita? maka solusinya adalah kita tidak boleh melihat ke atas. Artinya kalau seandainya kita selalu melihat orang yang lebih kaya, lebih tinggi jabatannya, maka yang terjadi akan timbul iri, tapi kalau seandainya kita melihat ke bawah maka yang terjadi akan merasa syukur dengan kenikmatan yang Allah berikan kepada kita semua. Kalau seandainya kita kuliah, lihat orang yang ingin kuliah tapi mereka tidak bisa kuliah karena tidak ada biaya, kalau seadainya kita bisa makan, lihat di pinggir-pinggir jalan, banyak orang yang meminta-minta hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. oleh karena itu jangan iri dengan rezeki orang yang ada di atas kita, tetapi bersyukurlah karena banyak orang yang berada di bawah kita yang masih belum senikmat yang kita rasakan. Jangan iri dengan keberhasilan orang lain, akan tetapi jadikan motivasi dan tanyakan kepadanya bagaimana sampai dia bisa berhasil seperti sekarang. karena dengan inilah kita akan menjadi orang yang bersyukur. Kalau kita bersyukur , maka Allah akan menambahkan rezeki kita, tapi kalau kita kufur, maka sungguh azab Allah sangatlah pedih.

Baca juga /dahsyatnya-neraka-5-siksaan-neraka-jahannam-menurut-Al-Qur'an dan As-Sunnah

2.Dzalim

Lima Penyakit Hati dalam Islam dan Cara Mengobatinya Sesuai Al-Qur'an dan As-Sunnah


Dzalim adalah meletakan suatu perkara/suatu bukan pada tempatnya. Setiap orang muslim tidak boleh mendzalimi siapapun, ya sifat ini tidak boleh dimiliki oleh orang muslim, karena sifat ini akan merusak kehidupannya, dan sifat ini di larang dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Allah SWT berfirman :

" Kalian tidak menzalimi dan tidak (pula) dizhalimi." ( QS Al-Baqarah : 279)

" barang siapa di antara kalian berbuat zalim, niscaya kami rasakan kepadanya azab yang besar." ( QS Al-Furqan : 19)

Rosulullah SAW bersabda,
"Takutlah kalian kepada kedzaliman, karena kezaliman adalah kegelapan di hari kiamat." ( HR Muslim )
" barang siapa berbuat zalim ( Merampas) sejengkal saja, maka Allah memikulkan tujuh bumi kepadanya." ( Mutaffaqun Alaih)

Dari dalil di atas jelas bahwa kita tidak beleh memiliki sifat Dzalim, karena hukumannyapun sangatlah berat.
Ada sebuah kisah tentang sepasang suami istri, yang dimana suaminya adalah orang yang dzalim serta sombong, dan istrinya adalah orang yang taat dan tidak dzalim. Pada suatu saat datang orang yang meminta-minta ke rumahnya untuk meminta sesuatu dari mereka, pada saat di ketuk pintunya maka istrinya membuka pintu tersebut, lalu setelah itu istinya meminta kepada suaminya untuk memberikan makanan yang ada di atas meja. Tetapi suaminya melarang untuk memberikan makanan tersebut, karena makanan tersebut adalah makanan yang mahal, tapi istrinya terus menangis meminta kepada suaminya untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan tersebut, tapi tetap suaminya tidak mau memberikan makanan yang enak itu, Dan percakapan tersebut di dengar oleh seorang pengemis tersebut. Akhirnya ia (istri) menghampiri pengemis sambil memangis dan bilang " mohon maaf suami saya tidak membolehkan memberikan makanan yang ada di dalam tersebut" kata pengemis " ouh iya, tidak apa-apa".

Selang 6 bukan kemudian, tiba-tiba sepasang suami istri tersebut mendapatkan musibah, yang dimana seluruh hartanya habis untuk mebayar hutang yang mereka memliki. Sampai mereka tidak memiliki apa-apa. Karena mereka tidak emiliki apa-apa, akhirnya si suami menceraikan istrinya tersebut. Dia bilang " aku tidak memiliki apa-apa, maka aku ceraikan kamu" kata istrinya" tidak apa-apa, aku masih bisa sabar" tetapi suaminya tetap ingin menceraikannya. akhirnya mereka cerai, selang setelah masa iddah beres, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang kaya raya untuk menikahi peempuan ini. Dan akhirnya mereka menikah. Setelah mereka menikah, tiba-tiba datang seorang pengemis yang kasusnya sama seperti enam bukan yang lalu. Kemudian istrinya membuka pintu, saat dia melihatnya, langsung dia menangis, dan bilang kepada suaminya" wwahai suamiku diluar ada orang yang meminta, bolehkan saya memberikan makanan ini" kata suaminya " silahkan". setelah itu istrinya bilang " suamiku, tahukan siapa orang yang mengemis tersebut?" suaminya bilang'siapa?" maka istrinya bilang bahwa pengemis tersebut adalah mantan suamninya. akhirnya suami yang baru tersebut bilang. "wahai istriku tahukah anda, bawha enam bulan yang lalu, saya juga pernah mengemis seperti dia, tapi waktu itu mantan suamimu tidak memberikan apa-apa, tetapi saya mendengarkan percakapan tersebut bahwa kamu sangat ingin memberikan makanan kepada saya" makanya saya berdo'a kepada Allah untuk menjadi orang kaya, dan Allah kabulkan"

Dari kisah di atas kita bisa mengambil hikmahnya, bahwa kita tidak boleh dzalim kepada orang lain. Kalau seandainya kita pernah dzalim kepada orang lain. maka minta maaflah kepada orang yang telah kita sakiti, lalu bertaubat kepada Allah sebelum azab datang kepada kita. Naudzubillah.

Baca juga hal-hal-yang-diwajibkan-disunnahkan-dimakruhkan-dan-pembatal-pembatal-shalat

3. riya


Riya adalan memperlihatkan suatu amal kebaikan kepada orang lain dengan niat ingin di puji. Rosulullah SAW bersabda
" barang siapa berbuat riya, maka Allah menjelek-jelekannya, dan barang siapa berbuat sum'ah maka Allah membeberkan sum'ahnya (kepada manusia)." ( Muttafaqun Alaih)

dari pada Allah menjelek-jelekan kita, lebih baik kita tidak riya, dan memang sifat ini tidak boleh dimilki oleh kita semua, karena riya adalah syirik kecil. Orang yang syirik itu tempatnya di neraka.
contoh perbuatan riya
a. Seorang hamba meningkatkan ibadahnya kepada Allah Ta'ala jika dipuji, dan ketaatannya berkurang atau habis sama sekali jika ia dicela.
b. Rajin beribadah ketika  bersama manusia, dan malas beribadah ketika sendirian.
c. Bersedekah saat dilihat manusia, saat tidak ada orang maka ia tidak bersedekah.
d. Seseorang mengatakan kebaikan, atau mengerjakan kebaikan, namun ia tidak menginginkannya untuk Allah Ta'ala semata, dan menginginkannya untuk manusia di samping Allah Ta'ala, atau tidak meginginkan-Nya sama sekali, dan menginginkannya untuk manusia semata.

Nah bagaimana cara kita untuk tidak riya? karena saat kita mau shalat duha lalu banayk orang dan kita tidak jadi itu disebut riya, dan saat kita shalat lalu ingin dipuji orang juga itu adalah riya. Maka solusinya adalah kerjaka shalat tersebut jangan sampai kita tidak jai melaksanakan karena takut dipuji orang. Saat shalat timbul riya, maka kita palingkan kembali dan niatkan kembali bahwa shalat ini hanya untuk Allah semata, kalau seandainya kita erus berusah, insya allah di mudahkan dan akan dibuka pintu kebaikan.

Baca juga kiblat-alasan-umat-muslim-ketika-shalat-menghadap-kiblat.

4. Kikir

Kikir adalah tidak mau mengeluarkan harta yang semestinya dikeluarkan, baik untuk dirinya, atau untuk kepentingan agama maupun untuk orang lain yang ada di masyarakat. masih ingatkah dengan qorun, dimana dia ditelan bumi gara-gara memilki sifat kikir, dan tidak mau membagikan hartanya. Akhirnya Allah aza orang yang kikir tersebut. bahkan kisahnya berada dalam Al-Qur'an. Rosulullah SAW bersabda ;

"tidaklah seseorang meminta kelebihan harta yang dimiliki tuannya lalu dia tidak memberinya kecuali akan datang ketika hari kiamat kelebihan harta itu berupa ular gundul." ( HR Abu Daud)

Dari dalil di atas, memberikan ibrah kepada kita semuanya bahwa jangan sampai kita memilki sifar kikir dan sukayang memelihara harta secara berlebih-lebihan. Karena di hari kiamat akan datang menjadi seperti ular yang akan memangsa kita.
Solusinya kalau kita tidak ingin memilki sifat kikir adalah dengan memaksakan diri untuk bersedekah kepada orang lain, walaupun berat. tapi seiring berjalannya waktu karena keterbiasaan kita melakukan kebaikan, insya allah kita akan dijauhkan dari sifat kikir, kalau seandainya kita takut riya, maka saat timbul sifat itu langsung perbaiki niat, sehingga sifat kikir hilang dalam diri kita, begitupun sifat riya.

Baca juga /hijrah-ayo-kejar-hijrah-sebelum-hijrah-tidak-bisa-dikejar

5. Malas

Lima Penyakit Hati dalam Islam dan Cara Mengobatinya Sesuai Al-Qur'an dan As-Sunnah


Malas adalah sifat yang sangat merugikan bagi kita, karena banyak waktu yang terbuang sia-sia. Kalau anda adalah orang muslim harusnya bersemangat, kuat dan tidak malas. Orang muslim itu tidak pengecut, dan tidak mundur, karena ia meyakini qada', percaya kepada taqdir, dan mengetahui apa saja yang menimpanya itu tidak akan meleset dan jika Dia menghendakinya mka orang tersebut tidak terkena bencana dalam keadaan apapun. Ia tidak berdiam diri dari mengerjakan perbuatan yang bermanfaat, karena ia mendengar Al-Qur'an berfirman;

" dan kebaikan apa saja yang kalian perbuat untuk diri kalian niscaya kalian memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling besar pahalanya."( Al-Muzzammil:20)

Doa agar tidak malas;
اللَّـــهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْحَـمِّ وَالْحَزَنِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْـِز وَاْلكَسَلِ .وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ الْجُـبْنِ وَالْبُخْـلِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَتِ الدَّيْنِ وَقَـهْرِ الرِّجَالِ




" ya Allah ya tuhan kami, sesungguh-Nya kami berlindung kepada-Mu daripada keluh kesah dan duka cita, aku berlindung kepada-Mu dari lemah kemauan dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, aku berlindung kepada-Mu daripada tekanan hutang dan kezaliman manusia."(HR Abu Daud)

Cara menghilangkan rasa malas.
a. Sibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat.
b. Saat ngantuk datang berwudulah.
c. Perbanyaklah istigfar dan merenungi ayat-ayat mengenai waktu yang memberikan hikmah kepada kita bahwa waktu itu sangatlah berharga bagi kita semua.
d. Bertemanlah bersama orang yang selalu semangat dalam segala hal, sehingga memberikan efek semngat pula kepada kita semuanya.

Baca juga enam-cara-menghafal-al-quran-bagi-pemula.

Mungkin itu saja yang bisa disampaikan oleh remajaonline.com semoga kita dijauhkan dari 5 sifat ini. Sehingga bisa terlindungi dari azab Allah SWT.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Lima Penyakit Hati dalam Islam dan Cara Mengobatinya Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah"

Post a Comment